Dwi Handayani, M K Herliansyah, Budi Hartono, Berta Maya Sopha

Evakuasi bencana eruspsi Gunung Merapi yang berlokasi di antara dua provinsi ini, yaitu Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta (lereng sisi selatan), Provinsi Jawa Tengah, Kabupaten Magelang (lereng sisi barat), Kabupaten Boyolali (sisi utara dan timur), serta Kabupaten Klaten (sisi tenggara) hingga saat ini masih terus dibahas, hal ini menarik, sebab Gunung Merapi merupakan Gunung Api yang memiliki potensi kebencanaan yang tinggi. Gunung Merapi ini mengalami erupsi setiap 2-5 tahun sekali dan secara geografis terletak diantara pemukiman yang padat penduduk.

Publikasi hasil penelitian dan beragam kajian mengenai eruspsi Gunung Merapi telah dilakukan oleh banyak peneliti selama beberapa dekade. Salah satu publikasi yang telah dipublikasikan ini memaparkan bahwasannya warga masyarakat yang menghuni lereng Merapi dibagi menjadi 5 cluster perilaku yang dibedakan berdasarkan perilaku saat menghadapi bencana erupsi Gunung Api Merapi. Kesiapan tersebut didasarkan pada perilakunya saat menghadapi 3 fase evakuasi yaitu, siap saat memutuskan akan evakuasi atau menunda evakuasi, siap kendaraan, dan mengetahui jalur/arah tujuan evakuasi.

Dirangkum dari ratusan sumber yang merupakan hasil risetnya, 5 tipe perilaku tersebut antara lain (1) Official Leader; (2) Cultural Leader; (3) Vulnerable Group; (4) Masyarakat yang siap (Prepared community member)r; (5) Masyarakat yang tidak siap (Unprepared community member). Dari hasil penelitian ini diharapkan seluruh pihak yang berwenang dapat mempertimbangkan ke 5 tipe perilaku tersebut dalam tahap perencanaan evakuasi maupun selama melakukan proses evakuasi.

Sumber:

https://ieeexplore.ieee.org/abstract/document/7797880 

https://www.krjogja.com/berita-lokal/diy/sleman/di-kawasan-merapi-masih-ada-warga-percayai-mimpi/ 

http://jurnaljogja.com/edukasi-merapi-perlu-lebih-awal/ 

https://m.bernas.id/66957-sistem-evakuasi-bencana-merapi-tekan-korban-jiwa.html